Muhammad Abdullah al-Yadoumi, seorang politisi Yaman yang terkenal, ia dianggap sebagai tokoh politik kontemporer paling penting di Republik Yaman.
Dia berasal dari suku Khawlan al-Tayal, yang terletak di tenggara ibukota Yaman, Sana'a, dan tempat kelahirannya berada di provinsi Taiz sama dengan Presiden Yaman Rashad Al Alimi dan PM Maeen Abdulmalik Saeed.
Taiz merupakan kota ketiga terbesar di Yaman setelah Sanaa dan Aden. Kini kota ini menjdi ibukota wilayah federasi Al Janad yang mencakup provinsi Taiz dan Ibb. Taiz juga pernah menjadi ibukota Kerajaan Mutawakkiliyah Yaman Utara.
Al-Yadoumi bergabung dengan pekerjaan keamanan negara dan dipromosikan ke pangkat kolonel, dan memegang posisi kepala Dinas Keamanan Politik hingga 1984.
Muhammad Abdullah al-Yadoumi membekukan pekerjaan keamanannya pada tahun 1984 dan beralih ke pekerjaan sipil.
Dia mendirikan surat kabar mingguan Al-Sahwa pada tahun 1984 M dan memimpin redaksi hingga tahun 1994 M, tahun di mana Yaman menyaksikan perang antara sisi utara dan selatan, yang disebut Perang Musim Panas 94.
Daftar Riwayat Hidup:
Nama: Muhammad Abdullah Ali Al-Yadoumi
Tempat lahir: Taiz
Tanggal Lahir : 1974 M
Kualifikasi: Sarjana Ilmu Militer
Pekerjaan pemerintah terakhir: Penasihat Presiden Republik Yaman
Muhammad Abdullah al-Yadoumi bergabung dengan politik lebih awal dan merupakan salah satu pelopor dari mereka yang mendirikan Partai Reformasi Kongregasi Yaman atau dikenal dengan Partai Islah saja pada tahun 1990.
Muhammad al-Yadoumi memegang beberapa posisi di Partai Islah, termasuk Asisten Sekretaris Jenderal Partai Islah, kemudian Sekretaris Jenderal Partai Islah, dan kemudian ketua Komite Tertinggi Kongregasi Yaman untuk Reformasi, menggantikan Syekh Abdullah bin Husein al-Ahmar yang menjadi tokoh utama Islah.
Syekh Abdullah bin Husein al-Ahmar merupakan seorang Sunni namun berasal dari keluarga Syiah Zaidiyah dan kepala suku konfederasi kabilah Hasyid. Presiden Abdullah Saleh berasal dari konfederasi suku ini. Dia merupakan pendiri Partai Al Islah.
Sheikh Abdul Majeed bin Aziz Al-Zindani, Sheikh Hamid bin Abdullah Al-Ahmar, Profesor Abdul Wahab Al-Ansi, Sheikh Abdullah Ali Saater dan Profesor Muhammad Qahtan adalah di antara para pemimpin Partai Islah yang paling terkemuka saat ini.
Muhammad Qahtan adalah salah satu dari mereka. tahanan politik paling menonjol dari kelompok Houthi sejak tahun 2015 hingga saat ini.
Partai Al Islah berperan dalam menggulingkan kekuasaan mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang saat itu melakukan aksi demo dengan kelompok Houthi.
Baik kelompok Houthi maupun Islah menjadi koalisi pendukung Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi pengganti Saleh.
Namun Hadi terusir dari Sanaa dan kemudian menjadikan Partai Al Islah menjadi dominan di pemerintahannya yang berpusat di Aden meski Hadi merupakan kader Partai Kongres Rakyat Umum pimpinan Saleh.
Partai Kongres Rakyat Umum yang menjadi partai pemerintah selama beberapa dekade akhirnya pecah.
Pertama yang mendukung pemerintahan penyelamat bentukan Houthi di Sanaa, yang kedua pecahan parpol yang mendukung presiden Hadi dan penggantinya presiden Rashad Al Alimi ketua dewan presidium (PLC) Yaman dan yang ketiga pecahan partai yang mendukung anak Saleh di Uni Emirat Arab usai Saleh akhirnya dibunuh oleh Houthi.
Dalam beberapa tahun belakangan, dominasi Partai Al Islah di pemerintahan mulai diganggu oleh kader Partai Kongres dengan memberikan banyak jabatan ke pendukung pemerintahan de facto Yaman Selatan atau STC.
Kini posisi gubernur di seluruh provinsi eks Yaman Selatan dipegang oleh kader STC. Terakhir adalah jabatan gubernur Shabwa dipegang STC.
Baik Partai Kongres maupun STC menilai gurita bisnis kader Islah sudah cukup besar sehingga menggerogoti kemampuan negara melawan kelompok Houthi.
Milisi di bawah STC juga menilai tentara Yaman yang berada di bawah kepemimpinan kader Islah bermain mata dengan kelompok Houthi dan menyerahkan beberapa distrik di Provinsi Al Jawf tanpa perlawanan.
Selain itu STC juga menilai, tentara Yaman di Kodam I Hadramaut yang tunduk ke kader Islah tidak pernah perang melawan Houthi. STC menginginkan seharusnya seluruh prajurit kodam tersebut dipindahkan ke garis depan melawan Houthi di Marib dan menyerahkan pengamanan Hadramaut ke STC.
Namun orang Islah berpendapat Kodam I memang memiliki wilayah kerja di Lembah Hadramaut dan usul pemindahan prajurit adalah bagian dari agenda separatisme STC.
Sampai saat ini, isu ini belum bisa diselesaikan oleh PLC walau sejumlah aksi demo di Seiyun sukses diorganisasi STC untuk menuntut Kodam I bergeser ke Marib.
Kodam I dan kader Islah juga membalas aksi demo tersebut dengan menggelar pawai mendukung kemerdekaan Negara Hadramaut jika STC sukses memerdekakan Yaman Selatan.
0 comments:
Post a Comment