![]() |
ilustrasi |
Awalnya, Juanita menjelaskan, PT Cosmar Indonesia, yang berbasis di Taman Tekno, Bumi Serpong Damai, Tangerang, ini tidak memiliki merek dagang, tapi hanya memproduksi kosmetik pesanan perusahaan lain. Saat itulah dia belajar membuat kosmetik dengan standar internasional, lengkap dengan pengemasan dan pemasarannya.
Pada pertengahan 2000-an, PT Cosmar mengikuti Badan Ekspor Indonesia dalam pameran di Dubai. Di situ, lulusan bisnis Rotterdam School of Management, Erasmus University, Rotterdam, ini bertemu seorang pemilik pabrik kosmetik Etiopia yang sedang mengembangkan perusahaan keluarganya.
Etiopia, negara terluas di Afrika Timur, belum memiliki produsen kosmetik. Bahkan produk pembersih tubuh, seperti sampo dan pasta gigi, harus didatangkan dari luar negeri, yang kebanyakan merupakan hasil selundupan. Juanita menyambut tawaran kerja sama itu dengan membentuk usaha bersama dengan bendera Cosmar East Africa Business.
Juanita, yang bersuamikan warga negara Belanda, mendapat pinjaman dari Belanda untuk mendirikan pabrik di Etiopia pada 2007. Namun jalan usaha itu jauh dari mulus.
Etiopia—negara dengan pendapatan domestik bruto per kapita setara Rp 6,65 juta—kata Juanita, nyaris nihil fasilitas. "Setiap hari, selalu ada saat listrik dan air tidak tersedia sama sekali," ujarnya. Walhasil, Cosmar berkonsentrasi membangun infrastruktur pabrik di tiga tahun pertama usaha mereka di Etiopia.
Perizinan pun merintanginya, baik di Indonesia maupun Afrika. Posisi geografis Etiopia yang tidak memiliki garis pantai membuat pasokan bahan produksi dari Tangerang harus melalui negara lain, yaitu Djibouti. "Semuanya harus melalui banyak tahapan, mulai keamanan, kesehatan, hingga label halal," kata Juanita.
Perlahan, kerja kerasnya berbuah manis. Karena kosmetik buatan Juanita adalah satu-satunya kosmetik yang legal dan asli buatan Etiopia, dagangannya laku keras. Setiap hari, Juanita mengatakan, selalu ada antrean truk yang menunggu gelontoran produk Viola. Tapi kebanyakan dari mereka harus pulang dengan bak hampa karena tidak kebagian.
Label Viola pun tersebar di rumah-rumah di Etiopia. Selain pemoles wajah, ada produk perawatan tubuh, seperti krim anti-penuaan dan pembersih tubuh, dari sampo, deodoran, sampai pembersih daerah kewanitaan.
Setelah malang-melintang di Afrika, Juanita bergeser ke Asia, tepatnya di Myanmar. Jika di Afrika fokusnya pada wajah, perhatiannya di Myanmar ada di ujung kaki. "Dari pemantauan kami, para biksu Buddha di sana banyak yang tidak pakai alas kaki, sehingga telapak kaki mereka pecah-pecah," ujar penggemar wisata bahari ini. Tenaga-tenaga ahli Cosmar di Serpong pun menggodok salep yang bisa membuat kaki biksu-biksu tersebut kembali mulus. (tempo.co)
Nb. Yuk gabung IICH dan IMECH
Juanita, yang bersuamikan warga negara Belanda, mendapat pinjaman dari Belanda untuk mendirikan pabrik di Etiopia pada 2007. Namun jalan usaha itu jauh dari mulus.
Etiopia—negara dengan pendapatan domestik bruto per kapita setara Rp 6,65 juta—kata Juanita, nyaris nihil fasilitas. "Setiap hari, selalu ada saat listrik dan air tidak tersedia sama sekali," ujarnya. Walhasil, Cosmar berkonsentrasi membangun infrastruktur pabrik di tiga tahun pertama usaha mereka di Etiopia.
Perizinan pun merintanginya, baik di Indonesia maupun Afrika. Posisi geografis Etiopia yang tidak memiliki garis pantai membuat pasokan bahan produksi dari Tangerang harus melalui negara lain, yaitu Djibouti. "Semuanya harus melalui banyak tahapan, mulai keamanan, kesehatan, hingga label halal," kata Juanita.
Perlahan, kerja kerasnya berbuah manis. Karena kosmetik buatan Juanita adalah satu-satunya kosmetik yang legal dan asli buatan Etiopia, dagangannya laku keras. Setiap hari, Juanita mengatakan, selalu ada antrean truk yang menunggu gelontoran produk Viola. Tapi kebanyakan dari mereka harus pulang dengan bak hampa karena tidak kebagian.
Label Viola pun tersebar di rumah-rumah di Etiopia. Selain pemoles wajah, ada produk perawatan tubuh, seperti krim anti-penuaan dan pembersih tubuh, dari sampo, deodoran, sampai pembersih daerah kewanitaan.
Setelah malang-melintang di Afrika, Juanita bergeser ke Asia, tepatnya di Myanmar. Jika di Afrika fokusnya pada wajah, perhatiannya di Myanmar ada di ujung kaki. "Dari pemantauan kami, para biksu Buddha di sana banyak yang tidak pakai alas kaki, sehingga telapak kaki mereka pecah-pecah," ujar penggemar wisata bahari ini. Tenaga-tenaga ahli Cosmar di Serpong pun menggodok salep yang bisa membuat kaki biksu-biksu tersebut kembali mulus. (tempo.co)
Nb. Yuk gabung IICH dan IMECH
0 comments:
Post a Comment