![]() |
ilustrasi |
Bisa jadi tak banyak yang mengenal Kota Samara sebagai bagian dari negara Rusia, meski Samara merupakan kota terbesar keenam di negara tersebut. Kita orang Indonesia lebih tahu tahu Samara sebagai 'Sakinah, Mawaddah, dan Wa Rahmah' ucapan selamat yang kita sampaikan saat ada kerabat mengakhiri masa lajangnya.
Samara bukanlah Moskow, St Petersburg, Sochi, atau Kazan, yang sudah dikenal luas dunia lewat pariwisata dan khususnya olahraga. Tapi, lewat Piala Dunia 2018, Samara coba 'meroket' agar lebih terlihat di mata dunia.
Meski kurang terdengar namanya, Samara justru punya peran penting dalam perekonomian Rusia sedari masih bernama Uni Soviet. Samara, yang berpenduduk sekitar 1,2 juta orang, merupakan pusat industri negara tersebut.
Samara punya lebih dari 100 pabrik yang menyumbang banyak untuk kemajuan Rusia saat ini. Salah satu industri terbesar di Samara adalah penerbangan. Lebih jauh lagi, Samara adalah pusat pengembangan teknologi luar angkasa Uni Soviet.
Di sanalah Rusia menggembleng Yuri Gagarin, yang kemudian menjadi manusia pertama yang berhasil sampai ke luar angkasa. Samara-lah yang membuat nama Gagarin dipuji tinggi dan dijadikan pahlawan nasional. Bahkan Gagarin dimakamkan bareng para pembesar Rusia (Uni Soviet) seperti Vladimir Lenin dan Josef Stalin.
Di Samara-lah, kapsul yang diberi nama Vostok dan membawa Gagarin ke luar angkasa, itu dibuat. Kapsul itu adalah buah kerja keras para pekerja pabrik milik sSKB-Progress. Itulah yang lantas jadi kebanggaan seluruh warga Samara.
Dalam prosesnya, Samara sempat jadi ibukota cadangan Uni Soviet, selain Moskow, pada Perang Dunia II. Pada periode itu mereka pun banyak dimasuki para pendatang dari Donbass, Moskow, serta negara-negara Baltik. Alhasil, pemerintah saat itu meminta para pendatang untuk bekerja di pabrik pembuatan pesawat yang lambat laun berkembang menjadi pusat industri kedirgantaraan Rusia. Selain memproduksi pesawat, Samara pun jadi pusat pengembangan industri aerospace.
Perjalanan Kota Samara sebagai pusat perkembangan teknologi penerbangan dan luar angkasa Rusia bisa dilihat secara lengkap jika berkunjung ke Museum Luar Angkasa.
Dari Kota Tertutup Menjadi Perhatian Dunia
Samara menjadi salah satu dari 11 kota yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Samara Arena, yang akan menggelar laga babak 8 besar antara Swedia vs Inggris, dibangun khusus untuk menyambut Piala Dunia ini.
Kantor Gubernur Kota SamaraKantor Gubernur Kota Samara (Mohammad Resha Pratama/detikSport taken with OPPO F7)
Stadion yang biaya pembangunannya mencapai US$ 320 juta ini memiliki desain arsitektur yang 'sangat Samara'. Memiliki kubah terbuat dari metal, bentuk Samara Arena menyerupai sebuah pesawat luar angkasa.
Menggelar pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2018, Samara kedatangan puluhan ribu orang dari berbagai belahan dunia. Kondisi yang berkebalikan dengan apa yang terjadi di kota tersebut pada beberapa tahun silam
Samara pernah menjadi kota tertutup. Uni Soviet menganggap kota tersebut menyimpan rahasia penting lantaran banyak penelitian luar angkasa dan pengembangan teknologi penerbangan dilakukan di sana. Saat masih berstatus kota tertutup, pengunjung ke Samara harus punya izin dan akan dapat pengawasan ketat.
Samara bukan satu-satunya kota tertutup yang kini jadi tuan rumah Piala Dunia. Yekaterinburg dan Kaliningrad juga pernah sangat terbatas buat pengunjung.
Tapi setelah negara Soviet runtuh di 1991, situasinya berubah. Kota tersebut terbuka untuk semua orang, banyak festival digelar, kegiatan bisnis berjalan pesat, dan pesta sepakbola paling akbar di dunia mampir ke sana. (sumber/adm)
Nb. Yuk gabung IICH dan IMECH
Dalam prosesnya, Samara sempat jadi ibukota cadangan Uni Soviet, selain Moskow, pada Perang Dunia II. Pada periode itu mereka pun banyak dimasuki para pendatang dari Donbass, Moskow, serta negara-negara Baltik. Alhasil, pemerintah saat itu meminta para pendatang untuk bekerja di pabrik pembuatan pesawat yang lambat laun berkembang menjadi pusat industri kedirgantaraan Rusia. Selain memproduksi pesawat, Samara pun jadi pusat pengembangan industri aerospace.
Perjalanan Kota Samara sebagai pusat perkembangan teknologi penerbangan dan luar angkasa Rusia bisa dilihat secara lengkap jika berkunjung ke Museum Luar Angkasa.
Dari Kota Tertutup Menjadi Perhatian Dunia
Samara menjadi salah satu dari 11 kota yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Samara Arena, yang akan menggelar laga babak 8 besar antara Swedia vs Inggris, dibangun khusus untuk menyambut Piala Dunia ini.
Kantor Gubernur Kota SamaraKantor Gubernur Kota Samara (Mohammad Resha Pratama/detikSport taken with OPPO F7)
Stadion yang biaya pembangunannya mencapai US$ 320 juta ini memiliki desain arsitektur yang 'sangat Samara'. Memiliki kubah terbuat dari metal, bentuk Samara Arena menyerupai sebuah pesawat luar angkasa.
Menggelar pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2018, Samara kedatangan puluhan ribu orang dari berbagai belahan dunia. Kondisi yang berkebalikan dengan apa yang terjadi di kota tersebut pada beberapa tahun silam
Samara pernah menjadi kota tertutup. Uni Soviet menganggap kota tersebut menyimpan rahasia penting lantaran banyak penelitian luar angkasa dan pengembangan teknologi penerbangan dilakukan di sana. Saat masih berstatus kota tertutup, pengunjung ke Samara harus punya izin dan akan dapat pengawasan ketat.
Samara bukan satu-satunya kota tertutup yang kini jadi tuan rumah Piala Dunia. Yekaterinburg dan Kaliningrad juga pernah sangat terbatas buat pengunjung.
Tapi setelah negara Soviet runtuh di 1991, situasinya berubah. Kota tersebut terbuka untuk semua orang, banyak festival digelar, kegiatan bisnis berjalan pesat, dan pesta sepakbola paling akbar di dunia mampir ke sana. (sumber/adm)
Nb. Yuk gabung IICH dan IMECH
0 comments:
Post a Comment