BeritaDEKHO - Pelatih PSM Makassar, Robert Rene Alberts, mengaku risau dengan persoalan kartu izin tinggal terbatas (kitas) yang disorot Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi. Menurut dia, masalah itu telah memecah konsentrasi pelatih maupun pemain asing di Tanah Air.
"Padahal kami bukan imigran gelap," kata Robert, Jumat malam, 9 September 2016, dilaporkan oleh tempo.co.
Menurut Robert, beberapa pelatih dan pemain yang tengah berlaga dalam turnamen Indonesia Soccer Championship (ISC) seperti mendapat cap sebagai imigran gelap. Padahal, kata dia, mereka datang ke Indonesia untuk ikut ambil bagian mengembangkan sepak bola di Tanah Air. "Kami datang dengan niat baik," ujarnya.
Pelatih asal Belanda itu mengatakan tidak ingin berurusan dengan masalah hukum lantaran izin tinggal. "Kami tidak mau dimasukkan ke penjara. Masalah ini sangat mengganggu persiapan tim kami," tutur Robert.
Sebelumnya, lembaga nirlaba Save Our Soccer mensinyalir ada sekitar 80-an pemain dan pelatih asing di ISC yang berlaga tanpa mengantongi kitas. Karena itu, pekan lalu, Menteri Imam Nahrowi meminta operator ISC 2016, PT Gelora Trisula Semesta (GTS), melarang pemain-pemain asing yang masih belum menyelesaikan persyaratan proseduralnya untuk bermain. Imam menduga masalah itu merupakan kesengajaan dari operator karena kejadian pemain datang tanpa visa kerja dan tak memiliki kitas seperti ini bukan pertama kali terjadi.
Media Officer PSM Ramli Manong menyatakan tidak ada lagi masalah ihwal kitas bagi pelatih dan pemain asing PSM. Menurut dia, manajemen telah mengirim seluruh dokumen yang dibutuhkan menyangkut izin tinggal mereka. "Jadi tidak ada persoalan keimigrasian pelatih dan pemain di Makassar," ujar Ramli.
PSM Makassar memiliki empat pemain asing yang baru bergabung pada putaran kedua TSC 2016. Mereka berasal dari Korea Selatan, Brasil, dan Belanda. (adm)
"Padahal kami bukan imigran gelap," kata Robert, Jumat malam, 9 September 2016, dilaporkan oleh tempo.co.
Menurut Robert, beberapa pelatih dan pemain yang tengah berlaga dalam turnamen Indonesia Soccer Championship (ISC) seperti mendapat cap sebagai imigran gelap. Padahal, kata dia, mereka datang ke Indonesia untuk ikut ambil bagian mengembangkan sepak bola di Tanah Air. "Kami datang dengan niat baik," ujarnya.
Pelatih asal Belanda itu mengatakan tidak ingin berurusan dengan masalah hukum lantaran izin tinggal. "Kami tidak mau dimasukkan ke penjara. Masalah ini sangat mengganggu persiapan tim kami," tutur Robert.
Sebelumnya, lembaga nirlaba Save Our Soccer mensinyalir ada sekitar 80-an pemain dan pelatih asing di ISC yang berlaga tanpa mengantongi kitas. Karena itu, pekan lalu, Menteri Imam Nahrowi meminta operator ISC 2016, PT Gelora Trisula Semesta (GTS), melarang pemain-pemain asing yang masih belum menyelesaikan persyaratan proseduralnya untuk bermain. Imam menduga masalah itu merupakan kesengajaan dari operator karena kejadian pemain datang tanpa visa kerja dan tak memiliki kitas seperti ini bukan pertama kali terjadi.
Media Officer PSM Ramli Manong menyatakan tidak ada lagi masalah ihwal kitas bagi pelatih dan pemain asing PSM. Menurut dia, manajemen telah mengirim seluruh dokumen yang dibutuhkan menyangkut izin tinggal mereka. "Jadi tidak ada persoalan keimigrasian pelatih dan pemain di Makassar," ujar Ramli.
PSM Makassar memiliki empat pemain asing yang baru bergabung pada putaran kedua TSC 2016. Mereka berasal dari Korea Selatan, Brasil, dan Belanda. (adm)