Perlombaan membangun sistem pertahanan udara di Timur Tengah semakin intens, seiring meningkatnya ancaman drone, rudal jelajah, dan roket jarak pendek. Uni Emirat Arab, Turkiye, dan Iran muncul sebagai tiga model berbeda dalam pengembangan pertahanan udara, masing-masing dengan filosofi industri dan politik yang tidak sama.
UAE melalui EDGE Group mempromosikan SkyKnight sebagai solusi perlindungan udara modern. Sistem ini dirancang untuk menghadapi ancaman jarak pendek seperti roket, artileri, mortir, drone, dan rudal jelajah rendah. SkyKnight kerap digambarkan sebagai “dome” pelindung, meski lebih tepat disebut sistem pertahanan udara terintegrasi.
Keunikan SkyKnight terletak pada pendekatannya sebagai integrator teknologi. UAE tidak sepenuhnya merancang semua komponen dari nol, melainkan menggabungkan radar, sensor, sistem komando, dan rudal pencegat yang sebagian berbasis teknologi asing, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Pendekatan ini membuat SkyKnight relatif cepat dikembangkan dan fleksibel. Namun, ketergantungan pada rantai pasok luar negeri tetap menjadi batasan strategis, terutama dalam situasi embargo atau konflik besar.
Berbeda dengan UAE, Turkiye memilih jalur pengembangan nasional penuh. Sistem HİSAR-A dan HİSAR-O menjadi tulang punggung pertahanan udara jarak pendek dan menengah Turkiye, sementara SİPER disiapkan sebagai sistem jarak jauh.
Industri pertahanan Turkiye, melalui Aselsan dan Roketsan, mengembangkan radar, rudal, hingga sistem komando secara domestik. Hasilnya adalah ekosistem pertahanan udara berlapis yang semakin mandiri dan berorientasi ekspor.
Kelebihan utama sistem Turkiye adalah kesinambungan teknologi. Setiap generasi HİSAR menjadi fondasi bagi pengembangan berikutnya, menciptakan kurva pembelajaran industri yang stabil dan berkelanjutan.
Sementara itu, Iran menempuh jalur paling keras dan tertutup. Sistem Bavar-373 diklaim setara dengan S-300 Rusia dan menjadi simbol kemandirian militer Iran di bawah sanksi internasional.
Iran membangun sistem pertahanan udara berlapis secara menyeluruh, mulai dari jarak pendek hingga jarak jauh, dengan doktrin pertahanan strategis yang berfokus pada penangkalan regional. Bavar bukan sekadar sistem militer, tetapi instrumen politik.
Namun, sistem Iran relatif tertutup dari uji interoperabilitas internasional dan minim integrasi dengan standar Barat, menjadikannya kuat secara nasional tetapi terbatas dalam kerja sama multinasional.
Jika dibandingkan, SkyKnight unggul dalam fleksibilitas dan integrasi cepat, HİSAR dan SİPER kuat dalam kemandirian industri, sementara Bavar mencerminkan ketahanan strategis di bawah tekanan geopolitik.
Perbandingan ini membuka pertanyaan besar tentang peluang negara lain seperti Arab Saudi, Mesir, dan Irak untuk memproduksi sistem pertahanan udara sendiri.
Arab Saudi memiliki modal finansial dan visi industrialisasi pertahanan melalui GAMI dan SAMI. Riyadh berpotensi mengikuti model UAE, yakni menjadi integrator canggih terlebih dahulu sebelum mengembangkan rudal pencegat nasional.
Ancaman drone dan rudal dari Yaman mendorong Saudi untuk mempercepat penguasaan teknologi SHORAD dan C-RAM. Dalam jangka menengah, Saudi berpeluang mengembangkan sistem lokal berbasis lisensi atau joint development.
Mesir berada pada posisi berbeda. Kairo memiliki basis industri militer besar dan pengalaman perakitan alutsista, namun masih sangat bergantung pada Rusia, China, dan Barat untuk sistem pertahanan udara.
Jika Mesir memilih jalur mandiri, model Turkiye lebih relevan, tetapi membutuhkan investasi jangka panjang, konsistensi politik, dan transfer teknologi yang tidak mudah.
Irak menghadapi tantangan paling berat. Meski memiliki kebutuhan mendesak akan pertahanan udara nasional, kapasitas industrinya terbatas dan lingkungan politiknya terfragmentasi.
Untuk Irak, tahap realistis saat ini adalah integrasi dan perakitan, bukan pengembangan penuh. Model SkyKnight versi Irak, dengan ketergantungan pada mitra luar, lebih mungkin dibanding jalur Iran atau Turkiye.
Secara keseluruhan, masa depan pertahanan udara kawasan tidak lagi dimonopoli oleh kekuatan besar global. Negara-negara regional mulai memilih jalannya sendiri, antara integrasi cepat, kemandirian bertahap, atau ketahanan penuh di bawah tekanan.
Persaingan SkyKnight, HİSAR, dan Bavar menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara bukan sekadar senjata, melainkan cermin arah politik, industri, dan kedaulatan strategis masing-masing negara.
Peluang Ekspor
Berikut teks pada gambar yang disusun ulang menjadi 10 paragraf berbahasa Indonesia, dengan gaya berita yang rapi dan informatif.
U.A.E melalui perusahaan Halcon, yang berada di bawah naungan EDGE Group, akan memasok rudal pertahanan udara SkyKnight produksi lokal pertamanya kepada perusahaan pertahanan Jerman, Rheinmetall AG. Kerja sama ini menandai tonggak penting bagi industri pertahanan Uni Emirat Arab.
Kesepakatan tersebut menjadikan SkyKnight sebagai sistem rudal buatan dalam negeri UAE pertama yang dipasok ke perusahaan pertahanan besar Eropa. Langkah ini sekaligus menunjukkan meningkatnya kepercayaan industri Barat terhadap produk militer yang dikembangkan di kawasan Teluk.
EDGE Group diketahui telah mengembangkan sistem pertahanan udara jarak pendeknya sendiri dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, Rheinmetall AG juga tengah mengembangkan sistem pertahanan udara berbasis darat yang terintegrasi.
Rheinmetall secara aktif mencari sistem rudal yang dapat melengkapi sistem pertahanan udara Skynex, yang dikenal luas sebagai salah satu platform pertahanan udara modular paling modern di dunia. Kebutuhan ini membuka peluang kerja sama strategis dengan Halcon.
Kedua perusahaan kemudian memutuskan untuk menawarkan solusi bersama. Dalam kerja sama ini, Halcon menyediakan sistem rudal SkyKnight sebagai komponen utama yang diintegrasikan ke dalam sistem Oerlikon Skynex milik Rheinmetall.
CEO Halcon, Saeed Al Mansoori, menyatakan bahwa SkyKnight akan menjadi sistem rudal yang melengkapi kemampuan Skynex yang selama ini dikenal unggul dalam aspek sensor dan meriam pertahanan udara. Pernyataan tersebut disampaikan kepada media lokal.
SkyKnight sendiri merupakan sistem rudal pertahanan udara pertama yang sepenuhnya dikembangkan dan diproduksi di Uni Emirat Arab. Program ini menjadi simbol ambisi UAE untuk membangun kemandirian teknologi militer.
Sistem SkyKnight dirancang sebagai solusi pertahanan udara jarak pendek yang mampu memberikan peringatan dini sekaligus melakukan intersepsi terhadap berbagai ancaman udara modern.
Ancaman yang dapat ditangani SkyKnight mencakup pesawat musuh, drone, artileri, mortir, hingga roket. Sistem ini dirancang untuk menghadapi tantangan peperangan asimetris yang semakin dominan di medan konflik modern.
Dengan jangkauan efektif hingga sekitar 10 kilometer, SkyKnight diposisikan sebagai lapisan bawah pertahanan udara berlapis. Integrasinya ke dalam sistem Skynex memperkuat posisi UAE sebagai pemain baru namun serius dalam industri pertahanan udara global.

