Kesenjangan kemampuan udara antara Kamboja dan Thailand menjadi sorotan serius dalam beberapa tahun terakhir. Meski Kamboja memiliki enam jet tempur FTC-2000G buatan China yang baru dikirim pada 2023, pesawat ini lebih tepat disebut sebagai jet latih yang dimodifikasi, bukan pesawat tempur garis depan yang canggih. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengapa Kamboja tidak mengoperasikan jetnya dalam skenario konflik nyata.
Thailand, di sisi lain, mengoperasikan armada F-16 Fighting Falcon dan Saab JAS 39 Gripen yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini AWACS dan jaringan data Link 16 standar NATO. Perbedaan teknologi ini membuat jet Kamboja rentan terhadap serangan bahkan sebelum pilot menyadari adanya ancaman.
Alasan jet FTC-2000G Kamboja tetap di darat bukan semata karena kesiapan pilot, tetapi juga terkait risiko reputasi China sebagai pemasok. Jika jet ditembak jatuh oleh F-16 Thailand, hal ini bisa mempermalukan industri pertahanan China secara global dan merusak prospek ekspor mereka di pasar lain.
Selain itu, FTC-2000G yang dijual ke Kamboja merupakan versi ekspor minimalis, berbeda dengan jet J-10C yang diberikan ke Pakistan karena kepentingan strategis yang lebih tinggi. Dengan kemampuan terbatas, jet ini memiliki rudal jarak dekat saja, tanpa dukungan radar canggih atau peperangan elektronik, sehingga menjadi target empuk bagi sistem terintegrasi Thailand.
Secara strategis, pembelian jet seharga total 51 juta dolar ini lebih bersifat simbolis daripada kebutuhan militer nyata. Jet Kamboja lebih sering digunakan untuk parade dan latihan ringan, menunjukkan hubungan politik dengan China ketimbang kesiapan menghadapi konflik udara nyata.
Video yang membahas hal ini juga menyoroti dimensi ekonomi. Produksi jet seperti FTC-2000G membantu menjaga pabrik-pabrik tua di China tetap beroperasi dan melindungi lapangan kerja domestik, menjadikan jet tersebut bagian dari strategi ekspor bertingkat yang pragmatis.
Kesimpulannya, negara kecil yang membeli senjata dari kekuatan besar seringkali menghadapi risiko aset tidak dapat digunakan saat krisis. Senjata yang dibeli bisa menjadi simbol politik, tetapi secara operasional, tidak efektif menghadapi ancaman modern.
Bagi Kamboja, tantangan terbesar adalah bagaimana membuat jet tempurnya relevan dalam konteks ancaman nyata dari Thailand. Mengingat kemampuan terbatas FTC-2000G, Kamboja perlu mengevaluasi strategi udara dan integrasi sistem untuk menghadapi ancaman dari jet yang lebih canggih.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah meningkatkan jaringan radar dan peringatan dini. Tanpa AWACS atau sistem pemantauan yang memadai, jet Kamboja akan selalu berada di posisi defensif, rentan terhadap serangan dari udara yang lebih superior.
Selain itu, pengembangan rudal jarak jauh dan peperangan elektronik dapat meningkatkan daya hidup jet. Jet ringan yang dipasangi rudal BVR (beyond visual range) dan sistem ECM sederhana akan lebih mampu menghadapi ancaman modern.
Kerjasama dengan negara sahabat untuk latihan gabungan dan interoperabilitas juga penting. Misalnya, latihan dengan China atau negara lain yang memiliki pengalaman tempur bisa meningkatkan kesiapan pilot dan pemahaman taktik udara modern.
Pelatihan intensif pilot Kamboja menjadi kunci. Mengingat FTC-2000G awalnya adalah jet latih, kemampuan pilot dalam manuver tempur, penginderaan ancaman, dan koordinasi dengan sistem darat harus ditingkatkan untuk mendekati efektivitas jet tempur modern.
Investasi jangka panjang di industri pertahanan domestik juga bisa menjadi solusi. Kamboja dapat mengembangkan kemampuan untuk memperbarui atau memodifikasi pesawat agar lebih sesuai dengan ancaman regional, sekaligus menciptakan kemandirian teknologi.
Negosiasi untuk memperoleh versi jet yang lebih canggih dari China atau negara lain juga perlu dipertimbangkan. Alih-alih membeli versi ekspor minimalis, versi upgrade dengan radar modern dan sistem senjata lengkap akan meningkatkan daya deterensi.
Kamboja juga bisa fokus pada strategi pertahanan terintegrasi, bukan hanya bergantung pada jet tempur. Sistem pertahanan udara berbasis darat, rudal permukaan-ke-udara, dan radar pantai dapat menambah lapisan perlindungan, membuat jet tempur lebih efektif saat digunakan.
Diplomasi militer menjadi penting untuk mengurangi risiko konfrontasi langsung. Dengan komunikasi yang baik, Kamboja bisa memanfaatkan jalur diplomasi untuk menurunkan ketegangan dan membeli waktu untuk penguatan militer.
Selain itu, Kamboja dapat memanfaatkan doktrin perang asimetris, seperti penggunaan pesawat tak berawak, rudal presisi, dan pertahanan berbasis jaringan untuk menyeimbangkan kekuatan melawan Thailand.
Teknologi informasi dan komunikasi juga menjadi faktor utama. Jet tempur hanya efektif jika didukung intelijen real-time, koordinasi jaringan, dan sistem komando yang responsif. Investasi di bidang ini dapat meningkatkan efektivitas operasi udara Kamboja.
Akhirnya, strategi Kamboja harus realistis. Mengoperasikan jet tempur baru tanpa dukungan sistem terintegrasi akan sia-sia. Pendekatan bertahap, fokus pada kesiapan pilot, integrasi sistem, dan modernisasi perlengkapan menjadi kunci agar jet tempurnya benar-benar bisa beraksi jika diperlukan.
Dengan langkah-langkah tersebut, Kamboja dapat memaksimalkan potensi jet FTC-2000G dan memperkuat pertahanan udara, sekaligus membangun kapasitas militer yang lebih mandiri dan kredibel di kawasan.

