Bayang Benishangul di Perbatasan Sudan

Angkatan Bersenjata Sudan atau SAF dilaporkan mulai membuka kemungkinan menutup sejumlah kamp militer di sepanjang perbatasan dengan Ethiopia. Langkah ini muncul seiring perubahan dinamika perang Sudan dan meningkatnya perhatian pada stabilitas kawasan perbatasan timur yang sensitif secara politik dan etnis.

Sejak pecahnya konflik antara SAF dan Rapid Support Forces, wilayah perbatasan Sudan–Ethiopia menjadi ruang strategis. Kamp-kamp militer yang sebelumnya difungsikan sebagai titik pengamanan kini dinilai berpotensi memicu ketegangan lintas batas jika tidak dikelola secara ketat.

Sumber-sumber keamanan Sudan menyebut penutupan kamp dipertimbangkan untuk menghindari tuduhan provokasi terhadap Ethiopia. SAF juga ingin mengurangi celah yang bisa dimanfaatkan kelompok bersenjata lintas negara di tengah perang yang belum mereda.

Perhatian SAF tak lepas dari kawasan Benishangul-Gumuz di Ethiopia barat. Wilayah ini berada tepat di seberang perbatasan Sudan dan sejak lama menjadi daerah dengan identitas politik dan sejarah yang berbeda dari pusat Ethiopia.

Benishangul bukan sekadar wilayah administratif modern. Kawasan ini memiliki sejarah panjang sebagai daerah perbatasan yang lebih dekat secara budaya dan ekonomi dengan Sudan dibandingkan Dataran Tinggi Ethiopia.

Dalam sejarahnya, Benishangul pernah menjadi wilayah semi-merdeka yang diperintah oleh elite lokal. Di kawasan ini berdiri kesultanan-kesultanan kecil yang memiliki hubungan erat dengan dunia Islam Sudan dan Nil Biru.

Kesultanan Benishangul yang paling dikenal berkembang pada abad ke-18 dan 19. Para penguasanya mengklaim legitimasi dari tradisi lokal dan jaringan dagang, bukan dari kerajaan Ethiopia di utara.

Kesultanan ini berfungsi sebagai penghubung perdagangan emas, budak, dan hasil hutan antara Sudan dan wilayah pedalaman Afrika Timur. Kedudukannya membuat Benishangul relatif otonom dari Addis Ababa selama berabad-abad.

Hubungan dengan Ethiopia mulai berubah pada akhir abad ke-19. Ekspansi Kekaisaran Ethiopia di bawah Menelik II mengubah peta politik kawasan barat, termasuk Benishangul.

Melalui perjanjian dengan Inggris yang menguasai Sudan saat itu, wilayah Benishangul secara resmi diserahkan kepada Ethiopia pada 1902. Sejak saat itu, Benishangul menjadi bagian dari negara Ethiopia modern.

Namun integrasi tersebut tidak sepenuhnya menghapus identitas lokal. Banyak komunitas di Benishangul tetap merasa berbeda secara etnis, bahasa, dan sejarah dari pusat kekuasaan Ethiopia.

Perasaan terpinggirkan ini melahirkan gagasan tentang otonomi luas, bahkan impian kemerdekaan di kalangan kelompok tertentu. Benishangul sering dipandang sebagai wilayah yang “dipaksakan” masuk ke Ethiopia oleh kesepakatan kolonial.

Narasi historis ini terus hidup dan kadang muncul kembali dalam situasi konflik regional. Perang di Sudan memberi resonansi baru terhadap wacana lama tentang identitas dan masa depan Benishangul.

Bagi SAF Sudan, stabilitas Benishangul menjadi faktor penting. Setiap ketegangan di wilayah itu berpotensi berdampak langsung pada keamanan Sudan timur dan Jalur Nil Biru.

Penutupan kamp militer di perbatasan dipandang sebagai sinyal kehati-hatian SAF. Sudan berusaha menunjukkan bahwa mereka tidak berniat menyeret Ethiopia ke dalam konflik internalnya.

Di sisi lain, Ethiopia juga sensitif terhadap isu Benishangul. Wilayah ini menampung proyek strategis seperti Bendungan Renaisans, yang membuat keamanan dan loyalitas kawasan menjadi prioritas nasional.

Sejarah Benishangul sebagai wilayah kesultanan merdeka memberi lapisan kompleks pada politik modernnya. Masa lalu itu terus membentuk cara masyarakat lokal memandang negara dan batas-batasnya.

Bagi banyak warga Benishangul, sejarah tidak sekadar catatan, melainkan sumber klaim politik. Ingatan tentang kesultanan lama sering dijadikan dasar untuk menuntut pengakuan lebih besar dari Addis Ababa.

Dalam konteks ini, langkah SAF Sudan di perbatasan bukan hanya soal militer. Ia juga mencerminkan kesadaran bahwa kawasan tersebut sarat simbol sejarah dan potensi gejolak.

Benishangul hari ini berdiri di persimpangan antara masa lalu kesultanan, negara Ethiopia modern, dan konflik Sudan yang belum usai. Setiap keputusan di perbatasan berpotensi menggema jauh melampaui garis peta.

Post a Comment