Pembahasan antara Islamabad dan Riyadh mengenai konversi pinjaman Arab Saudi menjadi kesepakatan pembelian jet tempur JF-17 Thunder membuka babak baru dinamika keamanan kawasan. Skema ini dinilai tidak hanya menyelamatkan posisi fiskal Pakistan, tetapi juga berpotensi mengubah peta kekuatan udara di Timur Tengah dan Tanduk Afrika.
Pada tahap awal, kesepakatan yang beredar menyebut nilai sekitar 2 miliar dolar AS. Dana tersebut disebut cukup untuk pengadaan sekitar 40-50 unit JF-17 lengkap dengan radar, paket pelatihan, serta persenjataan, yang kemudian kemungkinan besar tidak dioperasikan oleh Arab Saudi sendiri.
Dalam perkembangan terbaru, nilai kesepakatan itu disebut meningkat signifikan. Sumber-sumber yang dekat dengan pembahasan menyebut total nilai kini mencapai 4 miliar dolar AS, ditambah 2 miliar dolar tambahan untuk pengadaan perlengkapan dan dukungan di luar skema konversi pinjaman.
Dengan nilai tersebut, skema pengadaan disebut memungkinkan setiap negara penerima memperoleh hingga 20 unit pesawat JF-17. Negara-negara yang disebut berpotensi menerima hibah mencakup Yaman, Sudan, Somalia, dan Suriah, yang selama ini memiliki keterbatasan besar dalam kekuatan udara.
Pesawat JF-17 sendiri diperkirakan tidak akan digunakan oleh Arab Saudi. Riyadh telah mengoperasikan platform yang jauh lebih canggih, termasuk jet tempur generasi lanjut dengan sistem sensor dan persenjataan mutakhir, sehingga JF-17 lebih relevan sebagai alat pengaruh strategis ketimbang kebutuhan operasional langsung.
Jika pembelian ini benar-benar dihibahkan, maka langkah tersebut akan memperkuat posisi Saudi sebagai aktor kunci keamanan kawasan. Hibah persenjataan udara dalam skala besar akan menciptakan ketergantungan teknis, logistik, dan pelatihan pada Riyadh dan Islamabad.
Pengaruh tersebut berpotensi meluas jika sebagian paket juga dialokasikan untuk Djibouti. Negara kecil di pintu masuk Laut Merah itu memiliki nilai strategis tinggi, dan penguatan militernya akan berdampak langsung pada keamanan jalur pelayaran internasional.
Di Somalia, dampak skema ini diperkirakan paling terasa. Angkatan udara Somalia yang selama puluhan tahun nyaris lumpuh akan mengalami lompatan kapasitas signifikan, terutama dalam pengawasan wilayah udara dan operasi melawan kelompok bersenjata.
Penguatan militer Somalia juga terjadi di tengah isu sensitif mengenai kemungkinan pengakuan Israel terhadap Somaliland. Dalam konteks ini, tambahan kekuatan udara akan meningkatkan posisi tawar Mogadishu dalam menjaga keutuhan wilayahnya.
Bagi Yaman, hibah JF-17 akan memiliki arti strategis yang tidak kalah penting. Kemampuan pertahanan udara Yaman, khususnya di wilayah-wilayah terpencil dan strategis, akan meningkat secara drastis. Pada tahun 70-an, Saudi juga pernah mendanai pembelian pesawat tempur untuk angkatan udara Yaman Utara.
Pulau Socotra disebut sebagai salah satu titik yang paling diuntungkan. Dengan perlindungan udara yang lebih kuat, Yaman akan lebih mampu menjamin keamanan jalur laut dan udara di kawasan Samudra Hindia bagian barat.
Kesepakatan ini juga mencerminkan upaya Pakistan keluar dari tekanan fiskal akut. Dengan mengonversi pinjaman menjadi kontrak pertahanan, Islamabad memperoleh ruang napas finansial sekaligus menjaga industri pertahanan nasional tetap hidup.
Reuters melaporkan bahwa pembahasan ini berlangsung beberapa bulan setelah Pakistan dan Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan bersama tahun lalu. Kesepakatan JF-17 dipandang sebagai langkah konkret untuk mengoperasionalkan pakta tersebut.
Arab Saudi di sisi lain tengah menata ulang kemitraan keamanannya. Ketidakpastian atas komitmen jangka panjang Amerika Serikat di Timur Tengah mendorong Riyadh mencari mitra alternatif dan instrumen pengaruh baru.
JF-17, sebagai platform yang relatif murah dan mudah dioperasikan, menjadi pilihan ideal untuk tujuan tersebut. Pesawat ini cukup mumpuni untuk negara-negara dengan kebutuhan dasar pertahanan udara tanpa menuntut infrastruktur kompleks.
Menurut sumber Pakistan yang dikutip Reuters, total nilai kesepakatan mencapai 4 miliar dolar AS, dengan tambahan 2 miliar dolar untuk pengadaan di luar konversi pinjaman.
Kepala Staf Angkatan Udara Pakistan, Zaheer Ahmed Baber Sidhu, dilaporkan berada di Arab Saudi untuk pertemuan bilateral yang mencakup kerja sama militer. Kunjungan ini memperkuat indikasi bahwa pembahasan telah memasuki tahap serius.
Bagi kawasan, skema ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan regional secara bertahap. Negara-negara yang selama ini lemah di udara akan memperoleh kemampuan baru untuk mengamankan wilayah dan kepentingannya.
Namun, langkah ini juga berpotensi memicu respons dari aktor regional lain yang melihat penguatan pengaruh Saudi sebagai tantangan strategis. Dinamika baru ini diperkirakan akan mewarnai politik keamanan kawasan dalam beberapa tahun ke depan.
Jika terealisasi, kesepakatan JF-17 Saudi-Pakistan bukan sekadar transaksi pertahanan, melainkan instrumen geopolitik yang dapat membentuk ulang hubungan kekuatan di Timur Tengah dan Tanduk Afrika.
Jika Somalia memperoleh hibah 10 pesawat tempur modern, peta kekuatan udara di Tanduk Afrika dan Afrika Timur akan mengalami pergeseran signifikan. Selama ini Somalia nyaris tidak diperhitungkan dalam aspek kekuatan udara, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara tetangganya yang telah lebih dulu membangun angkatan udara operasional, meski dengan kualitas dan jumlah yang beragam.
Ethiopia saat ini menjadi kekuatan udara terbesar di kawasan tersebut. Angkatan Udara Ethiopia diperkirakan mengoperasikan lebih dari 30 pesawat tempur, termasuk Sukhoi Su-27 dan Su-30 yang relatif modern, ditambah pesawat serang ringan dan helikopter tempur. Dengan jumlah dan kualitas tersebut, Ethiopia masih akan unggul jauh, namun masuknya 10 atau 20 jet tempur ke Somalia akan mengakhiri kesenjangan ekstrem yang selama ini ada.
Eritrea memiliki kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding Ethiopia, dengan estimasi sekitar 8–12 pesawat tempur aktif, sebagian besar MiG-29 dan MiG-21 dengan tingkat kesiapan yang tidak selalu konsisten. Jika Somalia benar-benar mengoperasikan 10 jet tempur yang lebih modern dan didukung radar serta pelatihan, maka secara kuantitatif dan kualitatif Mogadishu berpotensi menyamai, bahkan melampaui, kapasitas udara Eritrea.
Kenya dan Uganda berada pada kategori menengah. Kenya diperkirakan memiliki sekitar 20 pesawat tempur, terutama F-5 yang telah dimodernisasi, sementara Uganda mengoperasikan sekitar 6–8 Su-30MK2 yang relatif canggih namun jumlahnya terbatas. Dengan 10 jet tempur baru, Somalia tidak akan menyaingi Kenya secara total, tetapi akan melampaui Uganda dalam hal jumlah pesawat tempur sayap tetap.
Chad, yang sering dianggap memiliki kekuatan udara terbatas, mengoperasikan sekitar 6 pesawat tempur ringan hingga menengah, termasuk Su-25 dan pesawat serang lainnya. Dalam skenario hibah tersebut, Somalia akan langsung melampaui Chad dan naik kelas dari negara tanpa kekuatan udara signifikan menjadi aktor regional tingkat menengah. Perubahan ini akan memberi Somalia daya tangkal baru dan meningkatkan posisi strategisnya di tengah dinamika keamanan kawasan, khususnya di Laut Merah dan Samudra Hindia barat.
Jika Somalia memperoleh hibah 10 pesawat tempur modern, peta kekuatan udara di Tanduk Afrika dan Afrika Timur akan mengalami pergeseran signifikan. Selama ini Somalia nyaris tidak diperhitungkan dalam aspek kekuatan udara, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara tetangganya yang telah lebih dulu membangun angkatan udara operasional, meski dengan kualitas dan jumlah yang beragam.
Ethiopia saat ini menjadi kekuatan udara terbesar di kawasan tersebut. Angkatan Udara Ethiopia diperkirakan mengoperasikan lebih dari 30 pesawat tempur, termasuk Sukhoi Su-27 dan Su-30 yang relatif modern, ditambah pesawat serang ringan dan helikopter tempur. Dengan jumlah dan kualitas tersebut, Ethiopia masih akan unggul jauh, namun masuknya 10 jet tempur ke Somalia akan mengakhiri kesenjangan ekstrem yang selama ini ada.
Eritrea memiliki kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding Ethiopia, dengan estimasi sekitar 8–12 pesawat tempur aktif, sebagian besar MiG-29 dan MiG-21 dengan tingkat kesiapan yang tidak selalu konsisten. Jika Somalia benar-benar mengoperasikan 10 jet tempur yang lebih modern dan didukung radar serta pelatihan, maka secara kuantitatif dan kualitatif Mogadishu berpotensi menyamai, bahkan melampaui, kapasitas udara Eritrea.
Kenya dan Uganda berada pada kategori menengah. Kenya diperkirakan memiliki sekitar 20 pesawat tempur, terutama F-5 yang telah dimodernisasi, sementara Uganda mengoperasikan sekitar 6–8 Su-30MK2 yang relatif canggih namun jumlahnya terbatas. Dengan 10 jet tempur baru, Somalia tidak akan menyaingi Kenya secara total, tetapi akan melampaui Uganda dalam hal jumlah pesawat tempur sayap tetap.
Chad, yang sering dianggap memiliki kekuatan udara terbatas, mengoperasikan sekitar 6 pesawat tempur ringan hingga menengah, termasuk Su-25 dan pesawat serang lainnya. Dalam skenario hibah tersebut, Somalia akan langsung melampaui Chad dan naik kelas dari negara tanpa kekuatan udara signifikan menjadi aktor regional tingkat menengah. Perubahan ini akan memberi Somalia daya tangkal baru dan meningkatkan posisi strategisnya di tengah dinamika keamanan kawasan, khususnya di Laut Merah dan Samudra Hindia barat.

