Albania, negara kecil di Balkan, dikenal sebagai satu-satunya negara Eropa modern yang memiliki raja Muslim pada abad ke-20. Sosok itu adalah Ahmed Zogu, yang kemudian dikenal sebagai Raja Zog I. Meskipun Albania sebelumnya sempat memiliki monarki, Zog I tercatat sebagai raja terakhir yang memerintah secara efektif.
Sebelum Zog I naik tahta, Albania sempat mengalami beberapa bentuk monarki yang singkat dan lemah. Salah satunya adalah Pangeran Wilhelm of Wied, seorang bangsawan Jerman yang diangkat sebagai pangeran pada 1914. Namun, kekuasaannya berlangsung hanya beberapa bulan karena gejolak perang dan pemberontakan internal, sehingga ia meninggalkan Albania sebelum benar-benar memerintah.
Selain itu, Albania juga pernah diperintah oleh keluarga bangsawan lokal pada era pra-Ottoman, termasuk dinasti Thopia dan Kastrioti, yang menegakkan pemerintahan feodal. Namun, pemerintahan mereka bersifat lokal dan terbatas, bukan monarki nasional modern. Kemudian, selama berabad-abad, wilayah Albania berada di bawah Kesultanan Utsmaniyah, yang menguasai wilayah Balkan sebagai bagian dari imperium. Sultan Ottoman memang seorang raja, tetapi ia bukanlah raja Albania yang berdaulat.
Pada awal abad ke-20, setelah runtuhnya Kekaisaran Ottoman, Albania memproklamasikan kemerdekaannya. Pada periode ini, Ahmed Zogu muncul sebagai tokoh politik utama. Ia menjadi Perdana Menteri pada 1922, lalu Presiden Albania pada 1925, dan akhirnya menjadi Raja Albania pada 1928. Dengan naiknya Zog I, Albania memasuki era monarki nasional modern yang relatif stabil dibandingkan percobaan sebelumnya.
Selama masa pemerintahannya, Zog I melakukan reformasi besar-besaran, mulai dari administrasi, militer, hingga pendidikan. Ia juga mengadopsi konstitusi baru yang menjadikan Albania negara modern, sambil tetap mempertahankan identitas Islamnya. Pemerintahannya penuh gejolak; tercatat ia selamat dari 55 upaya pembunuhan, termasuk insiden terkenal di Wina pada 1931.
Monarki Zog I berakhir ketika Italia di bawah Mussolini menginvasi Albania pada 1939. Raja Zog I melarikan diri ke pengasingan di Inggris, Mesir, dan Prancis, hingga wafat pada 1961. Sejak itu, Albania berubah menjadi republik dan tidak pernah lagi memiliki raja. Keturunan Zog I, termasuk cucunya Leka II, hanya menjadi simbol sejarah dan tidak memegang kekuasaan resmi.
Meski sempat ada monarki sebelum Zog I, baik dalam bentuk pangeran asing maupun keluarga bangsawan lokal, Zog I tetap dicatat sebagai monarki terakhir Albania yang berkuasa dan diakui internasional. Ia juga menjadi satu-satunya raja Muslim di Eropa modern pada abad ke-20, menandai babak penting dalam sejarah Albania.
Keunikan Zog I terletak pada kombinasi identitas nasional dan agama, yang jarang ditemui di Eropa. Ia menunjukkan bahwa Albania pernah memiliki monarki modern yang efektif, meskipun perjalanan sejarahnya penuh tantangan dan intrik politik. Hingga kini, nama Zog I tetap dikenang sebagai simbol monarki terakhir Albania.

